
Di hari ketiga setelah kematian tragis putrinya, Sri Pratama mendapati suaminya, Arman Pratama, sedang berkirim pesan dengan mantan kekasihnya, Laura Surya, menggunakan ponsel mendiang putri mereka, Laila Pratama. Ia merampas ponsel yang digunakan Laila untuk meminta tolong, mengabaikan keputusasaan putrinya, membela pelaku yang menyebabkan kematian Laila, bahkan menghancurkan abu jenazah putrinya dengan tangannya sendiri. Sri mengumpulkan bukti-bukti kuat, mengungkap kebenaran, membuat para penjahat diadili, dan bercerai dengan tegas. Pengkhianat itu akhirnya menjadi gila, dan Sri, membawa duka mendiang putrinya, menjalani sisa hidupnya sendirian.